Selasa, 18 Agustus 2009

Potret Sinetron Remaja

Pointers berdasarkan temuan penelitian ‘Kekerasan, Seks, Mistik dan Moralitas dalam Sinetron Remaja Indonesia’ oleh tim Peneliti Dosen Fikom UPDM(B), disajikan dalam Diskusi Ilmiah “Selamatkan Masa Depan Anak Indonesia dengan Tayangan Televisi yang lebih bermutu, Kamis 23 Juli 2009 di Kampus Moestopo, Hang Lekir

1. Seluruh sinetron yang diteliti baik serial maupun lepas, total jam tayang/hari : 249 jam, rata-rata jam menonton televisi : 2,7 jam.

2. Dari penelitian ini terungkap banyak dimensi kekerasan dalam sinetron yang luput dari perhatian awam. Misalnya, pelaku kekerasan rupanya sebagian besar ada pada kelompok usia yang dini atau remaja. Bahkan, sebagian kecil juga ditemukan pada anak-anak. Ini jelas gejala yang patut memperoleh perhatian bersama.

3. Kekerasan yang paling banyak terjadi adalah kekerasan psikologis . Umumnya kekerasan yang terjadi dilakukan berdasarkan faktor kesengajaan.

4. Secara gender, tokoh perempuan adalah yang paling banyak melakukan kekerasan dibanding laki laki. Korban dalam sinetron serial dan sinetron lepas yang diteliti lebih banyak tokoh perempuan. Yang paling banyak menunjukkan ekspresi kekerasan adalah tokoh perempuan, dengan bentuk ekspresi kekerasan yang paling dominan adalah verbal, walaupun tidak terlalu jauh berbeda dengan ekspresi kekerasan non verbal. Hal ini menunjukkan adanya kekerasan yang dilakukan oleh perempuan terhadap perempuan lainnya. Tokoh laki laki lebih banyak melakukan kekerasan bersifat fisik, sementara perempuan lebih banyak melakukan kekerasan psikologis.

5. Dilihat dari faktor usia, pelaku kekerasan lebih didominasi oleh remaja. Demikian pula korbannya. Sehingga mengindikasikan bahwa terdapat kekerasan yang dilakukan oleh remaja terhadap remaja lainnya. Dapat dikatakan bahwa muatan sinetron remaja 2008 yang diteliti tidak terlalu ramah bagi khalayak remaja kita. Muatan kekerasan cukup banyak mendominasi muatan cerita, ditambah dengan seks dan mistik. Ini adalah muatan-muatan yang disebut sebagai ”antisosial”. banyak kekerasan yang diteliti dalam sinetron remaja 2008 ber-setting keluarga; yakni dilakukan di lingkungan rumah. Ini berpotensi untuk menjadikan kekerasan sebagai sesuatu yang lumrah dilakukan dalam lingkungan keluarga (baik kekerasan psikologis atapun fisik). Hal ini berpotensi untuk “mengalamiahkan” terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

6. Karena sinetron yang diteliti banyak yang menampilkan kisah dari mulai pemerannya masih kanak-kanak hingga remaja, banyak pelaku kekerasan adalah anak-anak. Dalam hal ini anak-anak melakukan bentuk kekerasan yang sama seperti orang dewasa. Melalui temuan ini tampak bahwa anak menjadi seperti miniatur orang dewasa dalam melakukan kekerasan. Demikian pula perilaku yang terkait dengan seks pun banyak dilakukan oleh para pemeran anak-anak ini. Anak-anak dalam sinetron remaja terlihat cukup “matang” dalam hal pemahaman mengenai hubungan pria-wanita. Dalam usia yang masih kecil, anak-anak ini terlihat merasa “harus” memiliki pacar atau pasangan. Segala hal yang terkait dengan permasalahan orang dewasa, semacam intrik, cemburu, dan sebagainya dialami oleh anak-anak ini. Jadi, anak-anak dalam sinetron remaja ini tampaknya masuk ke alam kehidupan orang dewasa, karena permasalahan yang mereka hadapi tidak lagi khas anak-anak tetapi permasalahan di dunia remaja atau bahkan dewasa. Gaya pacaran kaum muda yang ditampilkan secara berlebihan dalam sinetron yang diteliti berpotensi menimbulkan pengaruh hingga ke tahap perilaku. Studi yang ada menunjukkan bahwa remaja merasa isi tayangan televisi yang terkait dengan seks adalah realistis dan ada korelasi antara jumlah tontonan program yang bermuatan yang seks dengan aktivitas seks yang dilakukan (Greenberg, Brown & Buerkel-Rothfuss, 1993: 5-18).

7. Temuan lain yang perlu dicatat adalah mengenai gambaran guru dan sekolah yang ditampilkan. Umumnya tokoh guru digambarkan sebagai tidak berwibawa, kadang karikatural, dilecehkan, bersikap galak sekali, dan tidak bijaksana. Ini tentu saja berpotensi menimbulkan masalah, karena dapat membentuk persepsi di benak khayalak muda tentang gambaran seorang guru. Kita tahu bahwa guru adalah tokoh yang penting dalam proses sosialisasi seorang anak. Jika anak terterpa gambaran yang demikian, maka bisa jadi potret tentang guru itulah yang melekat di benak anak. Dalam sinetron yang diteliti, sekolah ditampilkan hanya menjadi setting tempat melakukan kekerasan dan pacaran. Sinetron menampilkan sekolah bukan dalam fungsi yang seharusnya, yakni tempat belajar. Sekolah yang ditampilkan pun umumnya adalah sekolah untuk kelas sosial menengah ke atas. Umumnya anak atau remaja yang bersekolah adalah mereka yang datang dari kalangan berada: ke sekolah diantar kendaraan pribadi, ada sopir yang melayani, atau anak-anak tersebut membawa kendaraan sendiri (mobil atau motor). Temuan lainnya adalah cukup seringnya ditampilkan perilaku bullying di sekolah. Ini berkaitan dengan setting sekolah yang banyak ditampilkan dalam kisah sinetron yang diteliti. Karena mengambil setting sekolah,ditemukan kekerasan pun banyak dilakukan di sekolah.

8. Ada adegan bukan kekerasan, seks atau mistik yang tetap dipilah sebagai adegan tidak sesuai moralitas seperti pemakaian seragam sekolah yang tidak pantas (rok yang sangat pendek pada pemeran perempuan).

9. Di luar itu, ada juga adegan sesuai moralitas yang membuktikan bahwa sinetron remaja tetap memiliki nilai positif. Misalnya membela teman, menghormati orang tua dengan mencium tangan, dan berdoa bagi orang lain.

10. Kepentingan kapitalisme yang terdeteksi melalui pendewaan rating televisi masih ditemukan sebagai ideologi yang dijadikan landasan di dalam menciptakan mekanisme pembuatan sinetron.

Minggu, 21 Juni 2009

Life is choices and we live to choose which is best for us with all the consequences. We all made mistakes, but the most important thing is to keep learning every time every where. May God bless you always, and give you chances to be a better daughter, a loving wife (wanna be) and a great mother (wanna be)... Be brave and be wise, even though it's hard to be done :)

Cerdas Bersama Televisi Kita !!!

CERDAS BERSAMA TELEVISI KITA

Sebagai salah satu sumber informasi dan hiburan televisi memegang peranan penting bagi kehidupan masyarakat dewasa ini . Aktivitas menonton TV menjadi sebuah kebutuhan yang akhirnya bisa memangkas waktu interaksi dengan keluarga. Hal ini terjadi karena bagi kalangan menengah keatas, keberadaan televisi tidak saja berada di ruang keluarga tapi berada di setiap ruangan di rumah, yang akhirnya justru membuat sekat-sekat dalam keluarga.
Pengawasan terhadap tayangan yang di tonton oleh anak-anakpun akhirnya menjadi kurang. TV yang harusnya dapat memberikan sarana edukasi yang baik bagi anak-anak saat ini masih banyak menimbulkan dampak negatif. Televisi memiliki kontribusi terhadap gaya hidup tidak sehat, konsumtif dan perilaku kurang bermoral, jika pengawasan dari orang tua terbatas. Selain itu juga, berdasarkan penelitia Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) tahun 2006, menunjukkan bahwa jumlah jam menonton TV pada anak-anak usia sekolah dasar berkisar antara 30-35 jam seminggu, ditambah dengan sekitar waktu 10 jam untuk bermain PS/video game. Jika dibandingkan dengan waktu belajar anak dan remaja yang hanya 750 jam dalam setahun, waktu menonton televisi mereka jauh lebih besar sekitar lebih dari 1500 jam pertahun.
Oleh karena itu peranan orang tua dalam memberikan arahan dan edukasi menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Guna mengeliminir dampak negatif dari sebuah tayangan televisi. Sikap kritis dan mengurangi jam menonton televisi bagi anak-anak merupakan salah satu cara yang efektif .
Cerdas dalam memilih program tayangan dan memberikan masukan kepada lembaga penyiaran dan stasiun televisi dapat dilakukan guna memberikan tayangan yang tidak saja memberikan hiburan tapi juga sarana edukatif bagi anak-anak.
Hari Tanpa TV adalah wujud nyata dari kesadaran akan pentingnya bermedia secara cerdas dan kritis pada seluruh lapisan masyarakat, terutama pada keluarga-keluarga yang memiliki anak usia pra sekolah dan sekolah dasar. Melalui Hari Tanpa TV, masyarakat dan keluarga diharapkan mampu lebih kritis dan semakin cerdas dalam menyaksikan tayangan televisi, dengan cara mengurungi jumlah jam menonton televisi dan pemilihan acara yang aman dan sehat.
Hari Tanpa TV yang sudah berlangsung sejak tahun 2006 ini , merupakan sebuah aksi penyadaran yang diharapkan dapat memberikan sikap kritis dan memberikan alternatif pola pembelajaran bagi anak-anak. Sekaligus mendorong industri pertelevisian Indonesia untuk tumbuh dan berkembang secara kualitas produksi dan isi tayangannya.

Dukung HARI TANPA TV 2009 , 26 JULI 2009 dengan Mematikan Telivisi Anda!!!

Selasa, 16 Juni 2009

Indahmu

Imaji itu terus menari-nari di benak
Bagai lukisan yang tercipta
Dari tangan sang artist
Jiwa ini terpuaskan
Indahmu

Yang mampu membuat ku
Melayang meski tanpa sayap
Jiwa ini terbuaikan
Tercurahkan dalam binar mata
Senyum simpul

Ungkap garis-garis nyata dirimu
Tanpa sebuah ratap

Kamis, 11 Juni 2009

Ku tak Berarti Tanpa Tas

anpa tas, aku tak berarti …
Perempuan dan tas memang tak bisa dipisahkan, itu sudah menjadi bagian dari aksesories tersendiri. Berbagai merk tas juga menjadi sebuah symbol status bagi pemakainya. Menurut sejarahnya tas baru dikenal penggunaanya setelah perang Dunia Kedua. Bahan yang digunakanpun bermacam-macam mulai dari kulit, kain, vinyl, kulit sintetis sampai kertas seperti yang dibuat dizaman Dinasti Tang menjadi pilihan.

Kebutuhan akan tas pun saat ini bermacam-macam, dari sekadar untuk gaya, tempat menyimpan uang dan hp, penyimpan buku atau hanya sekedar menunjukkan status sosial tertentu dengan menggunakan tas bermerk menjadi pilihan masing-masing individu.
Aku memang tak bisa lepas dari tas, tapi bukan karena pingin terlihat trendy, berdandan masa kini atau ingin dilihat status tertentu. Tapi tas merupakan “Loker berjalan bagiku”. Setiap beraktifitas kadang dua buah tas aku bawa, tas pertama, berupa tas rannsel berisi peralatan kerja dan tas sandang(tas kain ) berisi buku, tempat air, kadang sepatu atau sandal, bahkan kalau lagi memang bawaanya banyak bisa tiga tas aku bawa.

Ingin rasanya menjadikan barang-barang yang aku bawa dalam satu tas, tapi rasanya menjadi repot apalagi saat mencari barang. Makanya kadang didalam tas, masih ada tas-tas kecil lainnya yang berisi alat tulis, make up dan handphone.

Karena terbiasa membawa tas dalam jumlah banyak aku dijuluki “miss gembol” . Bahkan saking melekatnya julukan itu, ada seorang teman melihatku aneh karena aku hanya membawa sebuah tas kecil, saat jalan di sebuah mall. Sampai -sampai dia melihat ke arah punggungku saking tidak percayanya. Katanya, “Ajeng tanpa gembolan bukanlah Ajeng”... celoteh itu juga yang kudapati saat menghadiri resepsi perkawinan salah satu sahabat, yang dengan santainya aku membawa "loker berjalan" ke dalam ruangan resepsi… hingga salah satu sahabatku bertanya “ Mau resepsi, mau ke Mall kalau gak bawa gembolan mang kurang lengkap ya Jeng ?” …

Entah itu telah menjadi kebiasaan atau kebutuhan akhirnya akupun merasa ada yang kurang lengkap kalau cuma bawa tas kecil atau hanya membawa satu tas saat bepergian. Kadang aku perlu mericek kembali apa yang aku bawa, saat menggunakan satu tas kecil, karena jangan-jangan ada yang ketinggalan karena tasnya kecil . Membawa 2-3 tas sekaligus membawa kenyamanan bagiku… dan kalau hanya membawa tas kecil seolah separuh napasku hilang dengan tidak terbawanya satu tas lainnya…

Sabtu, 06 Juni 2009

Atas Nama Kasih Sayang

Aku Trauma dengan kata atas nama rasa Kasih sayang…
Karena dengan atas nama rasa sayang itu membebaskan dan membelenggu diri.
Karena atas nama rasa Kasih sayang itu, tidak membuat diri menjadi diri sendiri yang memiliki kebebasan untuk berpikir dan bertindak
Karena atas nama rasa Kasih sayang itu, memenjarakan hasrat dan mengunci rapat –rapat nurani
Karena atas nama rasa Kasih sayang itu, justru membuatku tak tahu apa artinya rasa
Karena atas nama rasa Kasih sayang itu, hanya bentuk egosime untuk menguasai
Karena atas nama rasa Kasih sayang itu, aku hanya berada dalam alam fantasi dan ilusi yang membutakan mata hati
Karena atas nama rasa Kasih sayang itu, panasnya api tak kurasakan lagi
Karena atas nama rasa kasih sayang, kau gunakan untuk melampiaskan dendammu kepada orang lain
Aku membencinya karena alasan menggunakannya untuk sekadar menunjukan eksistensi atas hak orang lain…

Pergi saja kau dengan “Kasih Sayang” milik mu …
Buatlah robot atau boneka yang mampu penuhi inginmu…

Karena aku akan bebas tuk terlepas dari atas nama "Kasih Sayang" milikmu …

Minggu, 31 Mei 2009

Integrated Marketing Communications


Integrated Marketing Communication
Judul : My Life, My Way, My Blood : Advertising That Makes Money
Pengarang : A. Adji Watono
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2008
Tebal : xxxii + 315 halaman
Harga : Rp. 120.000,-


Integrated Marketing Communication (IMC) sebenarnya bukanlah suatu ide yang baru. Para praktisi pemasaran dan komunikasi dunia sudah lama membicarakan keuntungan konsep IMC selama bertahun-tahun. Saat ini para marketer, brand manager dan marketing communication membahas pentingnya `membangun relasi' dan kebutuhan `customer relationship management'. Mereka sangat memahami bahwa hubungan pelanggan yang baik merupakan kunci utama untuk mendapatkan, mengembangkan, dan memiliki pelanggan loyal dalam jangka waktu yang panjang.

Integrated Marketing Communication menurut definisi The American Association of Advertising Agencies adalah konsep perencanaan komunikasi pemasaran yang memberikan nilai tambah pada strategi komunikasi yang melibatkan kegiatan sales promotion, periklanan, public relations, direct response yang dipadukan untuk menghasilkan dampak komunikasi yang berarti.

Arus komunikasi yang semakin meningkat saat ini, membuat Integrated Marketing Communication (IMC) menjadi salah satu startegi yang saat ini banyak diterapkan oleh perusahaan guna menumbuhkan loyalitas konsumen. Penerapan IMC ini, akhirnya juga membuat agency advertising tidak saja menyediakan konsep iklan tapi juga konsep IMC bagi para kliennya. Persaingan antara advertising agency, membuat mereka membuat layanan yang komprehensif dan layanan yang terintegrasi dalam mengkomunikasikan produknya. Seperti yang dilakukan oleh Djarum Coklat dengan iklan yang menghadirkan para band papan atas Indonesia seperti Gigi dan Nidji serta ditopang dengan acara off air yang merupakan salah satu cara Brand Activation Djarum Coklat “Djarum Coklat Ngabuburit” mampu meremajakan salah satu merek rokok yang awalnya hanya dianggap sebagai merek yang beranjak menua.

Hal ini di pahami benar oleh Dwi Sapta sebagai salah satu pemain lokal, yang membuat pemetaan terhadap pola kebutuhan para klien. Selain itu juga, bersaingan dengan perusahaan periklanan multinasional memerlukan strategi tersendiri jika ingin maju di negara sendiri. Guna memenangkan persaingan, adpatasi dan perubahan mutlak harus dilakukan seperti yang dilakukan Dwi Sapta Advertising Advertising, yang membuat transformasi bisnis dari Advertising Service Agency menjadi IMC Solution Provider.

Selama 27 Tahun Aloysius Adji Watono, mengembangkan Dwi Sapta Advertising Agency menjadi salah satu agensi periklanan terkemuka di Indonesia. Berawal dari sebuah studio fotografi, Adji Watono kini membangun advertising agency dengan full service agency. Setelah meluncurkan bukunya yang pertama “Advertisng that Sells” pada September 2006 kini Adji Watono meluncurkan buku keduanya “My Life, My Way, My Blood :Advertising That Makes Money”. Buku yang dicetak hard cover ini merupakan sebuah kristalisasi dari perjalanan panjang dan businnes wisdom dari Adji Watono, sebagai salah seorang pelaku bisnis periklanan di Indonesia.

Beberapa tokoh seperti Hermawan Kartajaya (President of World Marketing Association Founder and President of MarkPlus, inc), DR. Rhenald Khasali dan Irwan Hidayat memberikan kata pengantar dalam buku yang merupakan karya kedua dari alumnus Adolf Lazi School, Stuttgart.

Dalam buku ini diungkapkan pandangan Adji Watono tentang Industri periklanan di Indonesia, secara jujur dan terbuka. Adji Watono sebagai salah seorang pendiri agency advertising lokal mengungkapkan trik-trik dan pola manajemen dalam memberikan pelayanan bagi para kliennya tanpa ditutupi. Kesuksesan Adji Watono bersama Dwi Sapta ini, karena menjadikan sebuah iklan menjadi alat promosi yang membantu konsumen untuk membeli produk. Mengutip dari pernyataan bapak periklanan David Ogilvy, “ If it doesn’t sell, it is not creative”. Bukan saja kreatifitas yang ditonjolkan dalam sebuah iklan tapi juga bagaimana iklan dapat menjadi profit machine, alat penghasil keuntungan, tak hanya menjadi “awereness driver” dan “sales driver” tapi juga “profit driver”.

Kualitas menjadi mantra baru bagi Adji dalam mengembangkan Dwi Sapta dan strategi pengembangan konsep layanan diarahkan dengan menawarkan konsep Integrated Marketing Communication Solution.

Sebagai profit driver bagi klien, menjadikan Adji bersama Dwi Sapta menguraikan The 12 Principles of Advertising that Makes Money. Dalam menguraikan prinsip tersebut, dalam buku ini ia membagi menjadi tiga dimensi manusia yaitu : Soul – Mind – Body.
Dua prinsip pertama merupakan Soul yang menjiwai prinsip-prinsip lainnya yaitu :
1. Principle #1 : Advertising Must Create Money
Prinsip ini merupakan Soul yang ditanamkan Adji Watono yang merubah karakteristik, perilaku dan nilai-nilai yang dianut oleh Dwi Sapta. Keinginan Adjie untuk merubah DNA aktifitas yang dilakukan Dwi Sapta dalam memberikan pelayanan bagi para klien. Baginya, iklan harus menghasilkan profit tak hanya cukup “top line” tapi juga harus sampai “bottom line”. Profit yang dihasilkan oleh klien bagi Dwi Sapta merupakan sebuah nilai kesuksesan tersendiri dalam memberikan pelayanan kepada client. Bahkan Adji merumuskan :
Client’s Success==> Make Money ==> Create Profit = Dwi Sapta Success
Salah satu contohnya adalah apa yang Dwi Sapta lakukan bagi Sido Muncul yang telah menjadi kliennya sejak tahun 1993. Kesuksesan Sido Muncul bersama Dwi Sapta dalam membangun Awereness tidak terlepas dari aspek 4 P yang diperhatikan secara jeli dan seksama

2. Principle #2 : Think Big, Dream Big and Action Big
Keinginan yang kuat dan bermimpi besar untuk sebuah tujuan jangka panjang, begitulah sosok Adji Watono dalam memajukan Dwi Sapta. Melakukan yang terbaik untuk para klien baik itu dalam visi dan penerapan dari visi tersebut . Baginya Action itu memang harus dilakukan dengan kerja keras dan ngotot. Kalau kita ingin mendapatkan hasil besar, aksinya juga harus besar .

3. Principle #3 : Lose to Win
Sikap mengalah untuk menang diterapkan Adji Watono dalam menghadapi klien. Baginya, “Dalam keadaan “lose”, biasanya kita tidak mungkin jumawa atau berlagak pintar terhadap orang lain.” Sikap inilah yang akhirnya membuat klien menjadi nyaman dengan ketulusan pelayanan yang ditawarkan. Sikap lose to win adalah strategi memenangkan perang dan memangkan kompetisi. Secara spesifik Adji menjabarkan sikap ini merupakan kunci pembuka untuk mendapatkan uang dan keuntungan secara jangka panjang.

4. Principle #4 : Never Give Up, No Matter the Obstacles Come Up
Kegagalan merupakan sebuah pembelajaran yang paling berharga bagi Adji Watono dalam membangun Dwi Sapta. Dari pembelajaran ini, kita akan mengetahui kekurang dan kelebihan kita dari agency lain. Proses kreatif akan semakin terlatih dengan baik kalau kita dapat melakukan proses pembelajaran yang matang. Kendala merupakan suatu tantangan untuk bisa melakukan yang terbaik untuk kliennya. Hal ini yang membuat Dwi Sapta disegani karena sikapnya selalu menampilkan yang terbaik dan dapat melampaui batas yang diharapkan para klien. Seperti saat Dwi Sapta menangani salah satu kliennya terbesarnya TOP1. Meski harus bolak-balik mempresentasikan konsep komunikasi, awak Dwi Sapta tidak kenal menyerah hingga akhirnya dengan pendekatan IMC yang ditawarkan Dwi Sapta akhirnya TOP1 mampu mengekstensifikasikan produknya ke anak muda.

5. Principle #5 : Never Say No. Nothing Is Impossible
Loyalitas merupakan sebuah sikap yang tidak serta merta tumbuh. Menyadari hal in, Adjie Watono selalu memberikan pelayanan yang terbaik bagi para kliennya dan tidak membedakan. Budget besar atau kecil bagi Dwi Sapta bukanlah penghalang untuk melahirkan komitmen terbaiknya dalam memberikan pelayanan bagi para kliennya. Salah satu contohnya,adalah yang dialami saat menangani Telkomsel, dengan budget terbatas namun kesungguhan kinerja Dwi Sapta menumbuhkan nilai kepercayaan.




6. Principle #6 : Hungry for Change. Never Stop Adapting
Kebutuhan komunikasi klien yang selalu berkembang akhirnya membuat Dwi Sapta berpacu melakukan adaptasi dan menerapkan IMC bukan hanya sekedar advertising agency. Perubahan demi perubahan dilampaui hingga membuat Dwi Sapta selalu mampu beradaptasi dengan pola kebutuhan para kliennya.

7. Principle #7 : Be Passionate !!! Focus on the Momentum of Sucess
Passion adalah urat nadi kesuksesan bagi seorang Adji Watono. Dengan passion kita berusaha untuk mengapai tujuan kita dengan langkah-langkah yang terbaik. Salah satu langkah yang terbaik dilakukan oleh Dwi Sapta adalah saat menangani Djarum Coklat. Dengan passion akhirnya mampu meremajakan Djarum Coklat dengan pendekatan musik, selain itu juga dengan pendekatan IMC, Djarum Coklat bersama Dwi Sapta menggelar event off air “Djarum Coklat Ngabuburit” selama bulan Ramadhan diberbagai kota. Dengan passion dan komitmen yang kuat akhirnya keinginan klien dapat terpenuhi dan meraih kesuksesan.

8. Principle # 8 : Follow Your Instinct. Trust Your Gut
Insting bisa menjadi petunjuk untuk mengambil keputusan. IMC yang diterapkan untuk produk Sari Puspa yang berganti nama menjadi Soffel . Dengan keyakinan yang kuat Dwi Sapta turut mendorong Soffel melakukan strategi komunikasi dengan menghasilkan iklan yang jauh lebih baik. Selain itu juga, masukan Dwi Sapta agar Soffel melakukan kampanye above the line dan below the line yang akhirnya membuat Soffel mengembangkan produknya.

9. Principle #9 : All Out !!! Overcommited to Every Decision You Make
Sikap inilah yang menjadi cermin kala Dwi Sapta menangani Ceres. Sebuah merek yang bisa dikatakan tidur, dengan pola IMC akhirnya Dwi Sapta dapat membuat startegi komunikasi mulai dari brand architecture, brand strategy hingga implementasi IMC. Dengan kerja all out, Dwi Sapta create money dan profit.

10. Principle #10: Farming, Not Hunting
Ini merupakan sebuah filosofi dari Dwi Sapta sebagai biro iklan yang tidak melakukan pola pendekatan “hit and run” tapi dengan cara menjadikan perusahaan ini menjadi Farmer dengan menumbuhkan benih. Hal ini yang menjadikan Dwi Sapta dapat tumbuh bersama klien. Hubungan “buka-bukaan” dan saling “telanjang” layaknya suami istri adalah rahasia terbesar kesuksesan Dwi Sapta membangun hubungan jangka panjang dengan klien. Selain itu, Dwi Sapta saling mempelajari secara mendalam pola-pola yang diterapkan oleh para klien dan kebutuhan klien. Bagi Adji, Farmer means profit.
Prinsip inilah yang membuat sejumlah klien menjadi loyal terhadap pelayanan yang diberikan Dwi Sapta karena tidak hanya mampu tumbuh dan berkembang bersama tapi juga beradaptasi.


11. Principle #11: Hard Work !!! Create Your Own Luck
Hard work is already in your blood. Luck is from the God, thank God. But luck without hard work is nothing (hal. 256), sebuah inspirasi yang didapatkan dari buku Donald Trump yang bagi Adji merupakan menjadi sumber inspirasinya. Bekerja keras dengan total akan menghasilkan hasil maksimal perpaduan dengan keberuntungan merupakan kesuksesan yang dihasilkan Dwi Sapta saat ini.

12. Principle #12 : Just Do It ! Take the Risk
Jalani dan mengantisipasi segala tantangan merupakan suatu hal yang membutuhkan keberanian. Ini juga yang mendasari Dwi Sapta dalam mengembangkan pelayanan IMC, sebuah tantangan yang menumbuhkan peluang yang lebih besar bagi Dwi Sapta.

Dengan dilengkapi sejumlah komentar dari para klien seperti dari Irawan Hidayat (Presiden Direktur PT. Sido Muncul) yang sudah bekerjasama dengan Dwi Sapta selama 17 tahun, Johan Leo (Senior Brand Manager Kalbe), Sugian Sinanto (Brand Manager Djarum), Ridwan C. Kidjo (Marketing Director Ceres) buku ini menjabarkan sejumlah kasus-kasus yang ditangani Dwi Sapta dengan klien-kliennya. Selain itu juga, proses penyerahan tongkat estafet Dwi Sapta kepada sang putri Maya Carolina Watono juga dijabarkan dalam bagian akhir buku ini.
Secara keseluruhan, buku ini menjabarkan sejumlah ‘rahasia dapur’ Dwi Sapta dalam bertransformasi .

Buku yang dapat menginspirasi bagi siapapun yang tertarik dengan dunia advertising, kiat menjaga hubungan dengan klien, manajemen perusahaan advertising dan bagaimana menerapkan Integrated Marketing Communication untuk para klien .
Dengan contoh kasus yang hangat, buku ini juga membuat para pembacanya mudah mengerti dengan trik-trik yang dilakukan gune mengatasi permasalahan dan menjadikan hal tersebut sebagai proses kreatif yang unik dan menarik .
Sebuah rumus diciptakan Adji Watono dalam penutup dalam buku ini,
(IMC Solution) +(the credos of Adverting that Sells + The Principles of Advertising that Makes Money ) = Client’s Sustainable Success


Dapat menjadi inspirasi untuk kita agar selalu dapat beradaptasi dan melakukan perubahan. Dengan strategi komunikasi yang terukur dan terencana dengan baik krisis global yang saat ini terjadi, bukanlah masalah bagi perusahaan-perusahaan yang tetap mengingikan konsumen tetap loyal.

Penerapan IMC bagi perusahaan-perusahaan saat ini dituntut untuk lebih kreatif lagi agar dapat mengisi ceruk-ceruk yang belum terisi. Buku ini dengan bahasa yang mudah dimengerti mampu memberikan inspirasi untuk siapa saja dalam membangun komunikasi yang kreatif di era sulit.